Senin, 19 April 2010

Arti Cinta

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu dinda
Agar kau mengerti arti sesungguhnya
Tak akan terlena, tak terbawa harumnya bunga asmara,
Yang akan membuatmu sengsara

Cinta suci luar bisa…Rahmat dari yang maha kuasa
Pada semua hamba-hamba-Nya Di dalam diri setiap manusia
Penuh dengan rasa cinta kepada harta, tahta dan manusia
Namun cinta kepada yang Esa di atas itu semua
Kebahagiaan pasti akan tiba

Cinta suci luar biasa..
Fitrah bagi manusia
Kasih sayang dari Sang Pencipta
Jangan kau berpaling dari cinta
Cinta dari yang Maha Pencipta
Kau pasti tergoda
Cinta yang abadi, hanya ada cinta membuat diri bahagia
Pada Allah saja…

By : Snada

Mendidik Anak Agar Gemar Menabung

Keluarga Samara. Celengan yang Bagus

1.Sediakan tempat menyimpan uang atau celengan dengan bentuk dan warna yang bagus agar anak tertarik.

2.Biasakan anak memasukan uang sendiri ke dalam celengan seberapapun dia punya.

3.Tanamkan sifat rajin pangkal pandai dan hemat pangkal kaya.

4.Ceritakan pengalaman orang-orang sukses dengan rajin menabung, bekerja dan banyak berdoa.

5.Jadilah teladan bagi anak bahwa orangtua juga sering menabung.

6.Ajak ikut serta anak pergi ke bank agar ia lebih tertarik dan lebih mengerti manfaat menabung.

Dwi Mayati
Bbk Cihapit III, Padasuka, Bandung

Setiap Akhir Bulan Buka Celengan

Salah satu hal yang penting dalam mendidik anak adalah keteladanan dan lingkungan. Untuk mendidik anak agar gemar menabung otomatis diperlukan keteladanan dan lingkungan penabung.
1.Siapkan celengan dengan bentuk yang unik dan menarik

2.Bedakan warna setiap celengan sesuai warna favorit pemiliknya dan bubuhkan nama pemiliknya (misal: Abi, Ummi, Aa, Ade) dengan huruf yang variatif.

3.Letakkan celengan berdampingan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau.

4.Setiap pagi, setelah anak mendapat jatah uang saku, Ayah atau Ibu mendahului mengisi celengan di depan anak sambil berkata, “Wah celengan Abi udah banyak nih. Abi pasti jadi juara.”

5.Celengan dibuka setiap akhir bulan dan dihitung jumlahnya bersama-sama.

6.Pemilik jumlah terbanyak, celengannya berhak menempati urutan paling kanan diikuti juara dua dan seterusnya.

7.uang celengan boleh digunakan untuk membeli barang yang diinginkan tampa tambahan dari orang tua.

8.Besoknya langsung dimulai pengisian celengan di bulan baru.

Utin Supartini, S.Pd
Tangkolo, Subang, Kuningan

Buat Bank Keluarga

1.Ajarkan nilai uang pada anak agar ia tahu cara yang baik dan halal untuk mendapatkan uang sehingga ia dapat menghargai uang tanpa perlu memujanya.

2.Atur uang saku rutinnya dan anjurkan agar sisanya ditabung.

3.Berikan reward (hadiah) bagi anak yang tabungannya paling banyak.

4.Belikan celengan yang menarik perhatiannya, bila perlu 2 macam celengan, satu untuk mencapai tujuan tertentu dan satu lagi sekedar tempat menabung.

5.Jika suatu hari anak minta dibelikan sesuatu, dari pada membelikannya langsung dari dompet dengan mudah, cobalah ajak ia untuk menabung dan tempelkan gambar barang yang dia inginkan kelak sebagai motivasi.

6.Buatlah bank keluarga bagi anak-anak dengan mekanisme seperti halnya bank yang sebenarnya, namun bedanya ada pengawasan anda sebagai orang tua. Tetapi jangan ajarkan bahwa bank adalah tempat satu-satunya untuk menabung.

7.Ajarkan anak untuk menyumbang dan berbuat baik dari uangnya sendiri dan katakan bahwa dengan menyumbang berarti ia sudah menabung pahala yang bisa dinikmati dalam surga kelak. Insya Allah.

Ummu Adwaa’
Perum Batara Indah, Tasikmalaya

Hadiah untuk yang Paling Banyak Tabungannya

1.Tanamkan niat pada anak bahwa gemar menabung pasti beruntung serta dengan mencontohkan dahulu sebelum mengajarkan anak menabung.

2.Tabungan tidak mesti berupa buku dan susah-susah antri di bank. Berikan celengan dengan model lucu seperti binatang kesayangan atau celengan dengan jam weker agar anak merasa senang menyimpan uang di tempat kesukaannya.

3.Tawarkan hadiah yang boleh diminta anak bila tabungannya dalam jangka waktu tertentu lebih banyak jumlahnya dari kakak atau adiknya.

4.Letakkan tabungan di tempat strategis yang mudah dijangkau tapi aman dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan, sehingga bila ada uang saku dapat segera dimasukan kedalam tabungan tersebut.

5.Uang yang akan ditabungkan tidak mesti langsung dari orang tua, dapat juga memberikan suatu tugas dan memberinya penghargaan dengan uang tapi dengan syarat ditabung. Hal ini sekaligus mengajarkan penghargaan atas suatu pekerjaan anak.

6.Berikan kebebasan anak untuk membeli barang/benda apapun yang disukainya dengan catatan masih dalam kaidah kesopanan dan kepatutan usia anak.

7.Jangan bosan mengingatkan anak agar menyisihkan uang sakunya untuk dapat ditabung.
(www.keluarga-samara.com)
Doried Eka Septayani
Jl Merbabu, Kel Sidomulyo Timur, Pekan Baru

Sumber : Majalah Ummi

Pentingnya Peran Ibu dan Pendidikan Usia Dini

Oleh: Siti Nuryati

Learning innovation – ”Hari Ibu”, begitu istimewanya sematan tersebut. Tak kita pungkiri bahwa posisi ibu sangat mulia hingga layak mendapat penghargaan khusus, yakni diperingati secara khusus tepatnya setiap tanggal 22 Desember tiba. Namun dibalik kemuliaan yang tersimpan dalam sosok seorang ibu, ada yang mesti kita renungkan saat ini. Pertanyaan besarnya adalah sudah sejauh mana kita memahami peran agung yang diemban seorang ibu hingga kita pun tak merasa malu untuk menyandang keagungan gelar tersebut.

Ibu, Pendidik Pertama dan Utama

Tugas utama seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummu a rabbatul bait). Tugas utama ini tidak bisa tergantikan, karena Allah SWT telah menetapkan bahwa wanitalah tempat ‘persemaian’generasi manusia dan tempat menghasilkan ASI (Air Susu Ibu) sebagai makanan terbaik di awal kehidupannya. Hal ini harus kita pahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini. Sebab hal yang demikian itu tidak bisa diperankan oleh laki-laki.

Untuk menjamin kelangsungan hidup manusia, Allah SWT telah menetapkan beberapa hukum yang khusus buat wanita. Diantaranya hukum tentang kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa iddah bagi wanita yang ditinggal suami (karena cerai/meninggal). Bahkan Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dirinya mampu menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik, seperti tidak wajib bekerja mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya, boleh berbuka puasa pada bulan Ramadlan bagi wanita hamil dan menyusui. Semua hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya dapat terlaksana dengan baik.

Islam telah menempatkan wanita pada posisi yang mulia dengan tugasnya sebagai ibu. Tanpa keikhlasan dan kerelaan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya selama 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini. Demikian pula dengan kerelaannya dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, hal itu akan berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Posisi seorang wanita yang ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.

Seorang ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini, sebab ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya. Karenanya ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Peran itu sangat menentukan kualitas masyarakat dan negaranya. Sedemikian penting peran ibu dalam menentukan masa depan masyarakat dan negaranya, sampai kaum perempuan (ibu) tersebut diibaratkan tiang negara.

Kedekatan fisik dan emosional ibu dengan anak sudah terjalin secara alamiah mulai masa mengandung, menyusui dan pengasuhan. Kasih sayang seorang ibu merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman. Para ahli berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan. Di sinilah arti penting peran ibu terhadap pendidikan anak usia dini.

Untuk menjalani peran ini Allah SWT telah memberikan potensi pada ibu berupa kemampuan untuk hamil, menyusui serta naluri keibuan. Disamping itu, Allah SWT juga telah menetapkan serangkaian syariat yang memerintahkan ibu untuk menjalankan perannya sesuai dengan potensi yang telah Allah berikan. Seperti anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun, mewajibkan ibu untuk mengasuh anaknya selama masa pengasuhan (hadlonah), yakni sampai anak bisa mengurus dirinya sendiri. Hal ini akan mendorong ibu untuk melakukan semua tanggung jawabnya semata karena mematuhi perintah Allah SWT. Sesungguhnya anak bagaikan ‘radar’ yang dapat menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak.

Apabila seorang ibu memiliki kepribadian agung dan tingkat ketaqwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik.
Kesan yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan. Disamping itu, anak sendiri membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berpikir. Ia belum mampu menterjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur ibu akan membuat anak mampu untuk menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya. Karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai.

Para pakar pendidikan mengajarkan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat untuk berperan sebagai qudwah pertama bagi anak. Ibulah yang paling besar peranannya dalam memberi warna pada pembentukan kepribadian anak, sehingga dibutuhkan ibu yang berkualitas yang akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Pembinaan kepribadian anak menjadi tanggung jawab orang tua terutama ibu. Keluarga berperan menjadi wadah pertama pembinaan agama dan sekaligus membentenginya dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari luar. Peran orang tua terutama ibu menjadi penting karena ibulah yang paling tahu bagaimana perkembangan dan kemajuan anak, baik fisik maupun mentalnya.


Kehadiran orang tua (terutama ibu) dalam perkembangan jiwa anak amat penting. Bila anak kehilangan peran dan fungsi ibunya, sehingga dalam proses tumbuh kembangnya anak kehilangan pembinaan, bimbingan, kasih sayang, perhatian dan sebagainya, maka anak akan mengalami “deprivasi maternal”. Deprivasi maternal dengan segala dampaknya dalam perkembangan dapat terjadi tidak hanya jika anak semata-mata kehilangan figur ibu secara fisik (loss), tetapi juga bisa dikarenakan tidak adanya (lack) peran ibu yang amat penting dalam proses imitasi dan identifikasi anak terhadap ibunya. Deprivasi maternal pada anak usia dini jauh lebih besar pengaruhnya daripada anak pada usia yang lebih besar. Keadaan ini menyebabkan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak terputus. Sering dijumpai pada anak-anak yang semacam ini suatu gangguan yang dinamakan “Attachment Disorder” atau “Failure to Thrive”. Pada kelainan kejiwaan semacam ini biasanya anak telah mengalami penyimpangan (distorsi).

Pada awal perkembangan, anak memerlukan stimulasi dini yang diberikan oleh ibu melalui panca indra fungsi-fungsi mental emosional agar anak terpacu
dan berkembang. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengalami deprivasi maternal juga mempunyai resiko tinggi untuk menderita gangguan perkembangan kepribadiannya, yaitu perkembangan mental intelektual, mental emosional bahkan perkembangan psikososial dan spiritualnya. Tidak jarang dari mereka bila kelak telah dewasa akan memperlihatkan berbagai perilaku menyimpang, anti sosial, bahkan tindak kriminal.

Kondisi inilah yang semestinya menyadarkan para ibu (atau calon ibu) akan pentingnya peran ibu dalam mencetak generasi unggul. Para ibu tak boleh terlena dengan julukan ”surga di bawah telapak kaki ibu”. Mestinya keagungan julukan itu mendorong para ibu untuk menjalankan peran terbaiknya, terutama pada masa-masa mendidik anak yang berada pada tahap usia dini.(*)